REVIEW BUKU
Teori
Dualisme Ekonomi Indonesia Menurut J.H. Boeke
Dualistis Ekonomi
Menurut KBBI pengertian dualistis adalah du·a·lis·tis mempunyai sifat dua (hal, pikiran, dsb); bersifat ganda, apabila dikaitkan dengan ekonomi berarti Kegiatan ekonomi yang bersifat dualistis adalah suatu kegiatan ekonomi tertentu atau dalam sektor tertentu yang menggunakan dua teknologi yang sangat berbeda. Sebagai contoh, dalam menanam karet di negara produsen karet terdapat dua macam kegiatan yaitu yang dilakukan para petani tradisional dan yang dilakukan oleh perkebunan. Para petani tradisional menggunakan cara penanaman, pembersihan ladang, penggunaan input (pupuk dan bibit) yang masih sederhana. Pada waktu yang sama terdapat perkebunan yang mengusahakan penanaman karet dengan management modern dan cara bercocok tanam dengan menggunakan teknologi dan input yang kontemporer. Perbedaan ini menyebabkan produktivitas per faktor dalam kedua cara penanaman tersebut sangat berbeda.
Menurut KBBI pengertian dualistis adalah du·a·lis·tis mempunyai sifat dua (hal, pikiran, dsb); bersifat ganda, apabila dikaitkan dengan ekonomi berarti Kegiatan ekonomi yang bersifat dualistis adalah suatu kegiatan ekonomi tertentu atau dalam sektor tertentu yang menggunakan dua teknologi yang sangat berbeda. Sebagai contoh, dalam menanam karet di negara produsen karet terdapat dua macam kegiatan yaitu yang dilakukan para petani tradisional dan yang dilakukan oleh perkebunan. Para petani tradisional menggunakan cara penanaman, pembersihan ladang, penggunaan input (pupuk dan bibit) yang masih sederhana. Pada waktu yang sama terdapat perkebunan yang mengusahakan penanaman karet dengan management modern dan cara bercocok tanam dengan menggunakan teknologi dan input yang kontemporer. Perbedaan ini menyebabkan produktivitas per faktor dalam kedua cara penanaman tersebut sangat berbeda.
Konsep dualisme mempunyai unsur pokok,
yaitu :
1. Dua keadaan bersifat superior dan
keadaan bersifat inferior yang bisa hidup berdampingan pada ruang dan waktu
yang sama.
2. Kenyataan hidup berdampingannya dua
keadaan yang berbeda bersifat kronis dan bukan tradisional.
3. Derajat superioritas dan inferioritas
tidak menunjukkan kecenderungan yang menurut, bahkan terus meningkat.
Indonesia menurut J.H. Boeke mengalami
dualisme ekonomi atau dua sistem ekonomi yang berbeda dan berdampingan kuat. Dua
sistem tersebut bukan sistem ekonomi transisi dimana sifat dan ciri-ciri yang
lama makin melemah dan yang baru makin menguat melainkan kedua-duanya sama kuat
dan jauh berbeda. Perbedaan tersebut karena sebagai akibat penjajahan
orang-orang Barat. Apabila tidak terjadi kedatangan orang-orang Barat mungkin
sistem pra-kapitalisme Indonesia dan dunia Timur pada umunya pada suatu waktu
akan berkembang menuju sisitem atau tahap kapitalisme.
Akan tetapi sebelum perkembangan
kelembagaan-kelembagaan ekonomi dan sosial menuju ke arah sama, penjajah dengan
sisitem kapitalismenya (dan sosialismenya serta komunisme) telah masuk ke dunia
Timur. Inilah yang menimbulkan sistem dualisme atau masyarakat dualisme. Telah
diuraikan bahwa ekonomi dualistik atau lengkapnya sistem ekonomi dualistik
adalah suatu masyarakat yang mengalami 2 macam sistem ekonomi yang saling
berbeda dan berdampingan sama kuatnya dimana sistem ekonomi yang satu adalah
sistem ekonomi yang masih bersifat pra-kapitalistik yang dianut oleh penduduk
asli dan sistem ekonomi yang diimpor dari Barat yang telah bersifat
kapitalistik atau mungkin telah dalam bentuk sosialisme atau komunisme. Kedua
sistem ekonomi tersebut saling hidup berdampingan secara kuat dan bukan dalam
bentuk transisional.
Oleh karena kedua sistem ekonomi
tersebut lebih menyangkut dua bentuk masyarakat yaitu masyarakat asli Indonesia
dan masyarakat Barat dan atau yang telah dipengaruhi oleh Barat maka lebih
tepat disebut masyarakat yang bersifat dualistik atau dual society. Masyarakat
yang bersifat dualistik membutuhkan ilmu ekonomi yang berbeda untuk yang satu
dengan yang lainnya. Ciri-ciri khusus masyarakat asli Indonesia dari segi
ekonomi dikemukakan oleh J.H. Boeke sebagai berikut:
Mobilitas faktor-faktor produksi adalah
rendah. Mobilitas faktor produksi rendah disebabkan karena sangat terpengaruh
oleh tradisi. Masyarakat yang bersifat tradisional tingkah lakunya telah
terikat dalam pola-pola tertentu. Penentuan upah, pembagian pekerjaan dan
tugas, jam kerja, penggunaan peralatan modal, dan lain-lain bersifat
tradisional.
Pemisahan yang tajam antara kota dan
pedesaan. Ketajaman tersebut sejajar dengan sifat masyarakat Timurnya sendiri.
Karena peredaran uang dan ekonomi pasar belum menyusup ke masyarakat pedesaan,
masyarakat pedesaan mempunyai sifat utama yaitu haus akan kredit. Pertentangan
antara kota dan desa sekaligus merupakan pertentangan antara perdagangan dan
industri dengan pertanian dengan kerajinan tangan.
Pertentangan antara rumah tangga atau
perekonomian uang dengan perekonomian barang. Karena perbedaan ini maka pajak
yang dikenakan terhadap masyarakat pedesaan yang harus dibayar dalam bentuk
uang bersifat sangat memberatkan.
Yang satu bersifat mekanistik dan
masyarakat pedesaan bersifat organik. Prinsipnya kehidupan masyarakat Barat
sangat bersifat mekanistik dalam arti bersifat pamrih, obyektif dalam arti
terutama melihat objek yang hendak dicapai dan kurang perhatian terhadap
unsur-unsur subyektif, kenyatan-kenyataan yang bersifat metafisik, faktor
berbagai macam perasaan dan lain-lain. Irama kehidupan masyarakat Timur sangat
ditentukan oleh lingkungan fisik, lingkungan metafisik, maupun lingkungan
sosialnya. Kepuasan bertindak dan kepuasan batiniah sangat ditentukan oleh
lingkungan-lingkungan tersebut. Maka dari itu masyarakat Timur lebih
mementingkan kebutuhan masyarakat, kebutuhan yang bersifat tradisional,
membatasi kebutuhan dan nafsu pribadi dan lainnya. Individu sebagai suatu
bagian dari organisme masyarakat, fungsi dan kedudukannya, kebtuhan dan
kepuasannya sangat ditentukan oleh organismenya sebagai keseluruhan, baik
organisme alam (fisik dan metafisik) maupun organisme sosial serta
institusional. Banyak tuduhan tentang indolens, fatalisme, dan kemalasan
bersumber pada tiadanya pengertian dan penghargaan itu.
Masyarakat Barat, perekonomiannya bersifat produsen dan masyarakat Timur berperekonomian konsumen. Azas perusahaan modern belum meresap dalam masyarakat Jawa (masyarakat Timur) dan konsumen dikuasai oleh alasan non ekonomi. Seluruh kehidupan dikuasai oleh agama, kebiasaan dan tradisi sesuai agama, tingkah laku terutama ditentukan oleh kebutuhan untuk merasa senang dan kepuasannya secara ekonomis mutlak adalah hal yang sekunder.Dalam masyarakat yang mempunyai ciri-ciri seperti itu, ilmu ekonomi (yang bersal dari Barat) tidak akan berlaku atau paling tidak, berlakunya sangat terbatas.
Masyarakat Barat, perekonomiannya bersifat produsen dan masyarakat Timur berperekonomian konsumen. Azas perusahaan modern belum meresap dalam masyarakat Jawa (masyarakat Timur) dan konsumen dikuasai oleh alasan non ekonomi. Seluruh kehidupan dikuasai oleh agama, kebiasaan dan tradisi sesuai agama, tingkah laku terutama ditentukan oleh kebutuhan untuk merasa senang dan kepuasannya secara ekonomis mutlak adalah hal yang sekunder.Dalam masyarakat yang mempunyai ciri-ciri seperti itu, ilmu ekonomi (yang bersal dari Barat) tidak akan berlaku atau paling tidak, berlakunya sangat terbatas.
Inti dari ekonomi dualisme adalah (dual economy) istilah yang memiliki
makna akademis teknis maupun makna yang lebih umum. Dikatakan demikian karena
dalam aspek teknisnya, istilah ini merujuk pada adanya dua sektor berlainan dalam
perekonomian yang sama, masing-masing memiliki pijakan budaya, aturan main,
teknologi, pola-pola permintaan, dan praktik pelaksanaannya
sendiri. Sedangkan disisi lain yang mencerminkan hal
lebih umum adalah adanya perbedaan sektor
subsistem tradisional yang berpendapatan rendah khususnya dipedesaan dengan
sektor kapitalis perkotaan yang tumbuh pesat dan lebih modern.
Comments
Post a Comment